Kamis barusan, tanggal 20 Februari, atas undangan Akademi Samali, beberapa kru Splash mengikuti acara diskusi Drunken Monster karya Pidi Baiq — pencipta komik legenda Jaka Tarub dan Si Lender — di ak’sara Kemang.
Sewaktu menguraikan tentang permainan dan constraint, Pak Hikmat Darmawan memberi penjelasan tentang Oubapo dan Oulipo, dan kemudian sebagai contoh memberi novel tanpa huruf E karangan Georges Perec, kebetulan juga salah satu pengarang yang karya-karyanya saya sukai.
Bagi yang tertarik, novel tanpa huruf E yang dimaksud adalah La Disparition yang diterjermahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Gilbert Adair sebagai A Void. Serunya lagi, sebenarnya Georges Perec juga menulis novella (Les Revenentes, diterjermahkan menjadi The Exeter Text, yang diterbitkan dalam satu buku Three oleh Harvill Collins juga) dengan hanya menggunakan vowel e, dari tumpukan huruf e yang tak terpakai di A Void. (Saya sendiri nggak terlalu inget isi novellanya, bacanya dah lama euy, cuma keinget kalo bawdy abis, dan seru aja sih baca beberapa halaman e e e melulu he he he).
Perec tidak hanya terbatas bermain-main dengan lipogram — magnum opus Perec, La vie mode d’emploi (Life: A User’s Manual, trans. by David Bellos yang juga mengarang biography Perec) merupakan quilt of literary constraints yang tidak hanya menggunakan permainan huruf. Lanjutannya di review-review lama saya aja ya…
Saya sendiri belum menyelami Oubapo; satu yang saya tahu adalah karya Matt Madden, 99 ways to tell a story: Exercises in Style, terinspirasi oleh Exercises de Style karya Raymond Quenau, salah satu pendiri Oulipo, di mana dia menceritakan satu kejadian dengan berbagai cara, perspektif dan style. (Bagi yang tertarik baca Quenau, saya ada eBooknya, monggo email japri atau mampir ke alt:ruizine aja, ada tuh novel-novel Perec, sangat direkomendasi).